Selasa, 01 November 2011

Epidemiologi Penyakit Tidak Menular

Transisi Epidemiologi: Meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia
Penyakit tidak menular makin meningkat di Indonesia, bahkan penyebab kematian yang semula didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular
Pada abad ke-19, penyakit yang banyak berkembang di masyarakat merupakan penyakit menular atau disebut penyakit infeksi. Yang menjadi penyebabnya merupakan mikroorganisme seperti bakteri, virus, maupun parasit. Cara penularannya dari suatu individu kepada individu lain dapat melalui media tertentu seperti udara (contohnya penyakit TBC dan infulenza), konsumsi makanan dan minuman yang kurang bersih pencuciannya (hepatitis dan typhoid/tifus), maupun dari jarum suntik dan transfusi darah (HIV AIDS, hepatitis).
Di Indonesia, meskipun masih banyak penyakit menular seperti TBC dan malaria menjadi penyebab kematian yang utama tetapi pada abad ke-20 tren penyakit mulai diambilalih oleh penyakit tidak menular, seperti stroke, serangan jantung dan kanker. Perubahan pola penyakit ini dikenal sebagai transisi epidemiologi.
Angka penyakit tidak menular di Indonesia terus meningkat, pada tahun 1995 kematian akibat penyakit tidak menular sebesar 41,7 persen dan tahun 2007 meningkat menjadi 59,5 persen. Contohnya adalah kematian akibat rokok. Dalam hal ini, WHO memperkirakan bahwa jika di tahun 2000 terdapat 4 juta kematian yang berkaitan dengan rokok di seluruh dunia, maka di tahun 2030 angka itu akan mencapai 10 juta. Sebesar 7 juta di antaranya akan terjadi di negara-negara berkembang dan yang 3 juta terjadi di negara-negara maju. Jumlah kematian sebesar itu tentu akan membebani ekonomi negara-negara berkembang.
Apa itu Penyakit Tidak Menular (PTM)?
Penyakit tidak menular merupakan penyakit kronik atau bersifat menahun (degeneratif). PTM ini bisa disebut penyakit non-Infeksi  karena penyebabnya bukan mikroorganisme. Namun tidak berarti peranan mikroorganime dalam terjadinya penyakit tidak menular ini dapat dikesampingkan karena jika PTM tidak ditangani dengan baik maka bisa saja menjadi komplikasi dengan penyakit infeksi.
Karakteristik penyakit tidak menular ini adalah penyebaran penyakitnya tidak melalui suatu rantai penularan tertentu, masa inkubasi penyakit yang panjang, dan dalam diagnosisnya lebih sulit daripada penyakit menular, serta variasinya luas.

Apa yang menjadi penyebab PTM?
Terjadinya perubahan pola penyakit dengan peningkatan PTM ini dapat didorong dengan beberapa hal, yaitu:
1.   Perubahan struktur masyarakat yaitu dari agraris ke industri,
2.    Perubahan struktur penduduk yaitu penurunan anak usia muda
3.    Peningkatan jumlah penduduk usia lanjut karena keberhasilan KB.
4.   PTM yang berkembang di masyarakat pada umumnya disebabkan bawaan/keturunan, kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran,
5.    Pola hidup yang tidak sehat, seperti dampak dari konsumsi makanan serta minuman termasuk merokok, mengonsumsi alkohol, narkoba, obat-obat perangsang ataupun penenang, kurangnya olah raga, tipe pekerjaan yang banyak duduk.
6.   Perilaku yang serba kompetitif akan meningkatkan stres dan menaikkan tekanan darah.
7.   Faktor lingkungan yang tidak sehat dan udara yang tercemar asap rokok, asap knalpot, dan asap industri, membuat angka kematian akibat penyakit tidak menular itu meningkat.
8.   Bencana Alam
9.   Urbanisasi
10.  Global Warming
11.  Kepadatan penduduk membuat banyak penggunaan kendaraan yang menyebabkan angka kecelakaan lalu lintas tinggi (Transportasi)

Apa saja PTM itu?
Seperti yang telah dijelaskan di atas, PTM merupakan penyakit degeneratif, saat ini yang banyak berkembang di masyarakat seperti penyakit hipertensi atau darah tinggi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, asam urat, penyakit jantung, paru-paru kronis, bahkan kanker. PTM dapat juga disebabkan karena kecelakaan termasuk cedera, luka dan benturan akibat kecelakaan
Bagaimana menanggulanginya?
Upaya pencegahan PTM dengan menggunakan prinsip: upaya pencegahan penyakit lebih baik dari mengobati juga tetap berlaku. Upaya pencegahan ini ditujukan kepada faktor resiko yang telah diidentifikasi. Ada empat tingkat pencegahan dalam epidemiologi, antara lain
1.   Pencegahan primordial dimaksudkan untuk memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan PTM ini tidak didukung dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor resiko lainnya. Upaya ini cukup kompleks, karena tidak hanya membutuhkan kesadaran pribadi dari individu tetapi juga dukungan sosial masyarakat.
2.   Pencegahan tingkat pertama, meliputi  Promosi  kesehatan masyarakat, seperti: kampanye kesadaran masyarakat, promosi kesehatan, pendidikan kesehatan masyarakat. Selain itu juga berupa pencegahan khusus, yaitu pencegahan keterpaparan.
3.   Pencegahan tingkat kedua meliputi diagnosis dini, misalnya dengan melakukan screening. Pencegahan tingkat dua lainya adalah pengobatan, kemoterapi atau tindakan pembedahan.
4.   Pencegahan tingkat ketiga meliputi rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sakit.
Jadi, untuk menekan angka kematian akibat epidemi PTM ini sebenarnya bukan tergantung pada obat saja, tetapi diperlukan juga kesadaran masyarakat sendiri untuk mengubah pola hidup yang tidak sehat menjadi pola hidup yang sehat, termasuk juga mengendalikan pencemaran udara dan lingkungan hidup. Contohnya Pasien hipertensi tidak hanya bergantung pada obatnya, tetapi juga harus mengubah pola makannya untuk mendukung pengobatannya,

Epidemiologi Kesehatan

PREVALENSI PENYAKIT MENULAR
DI INDONESIA

Indonesia adalah negara berkembang yang dilalui oleh garis khatulistiwa dan merupakan daerah tropis dan sub tropis. Indonesia negara tropis : 23 derajat LU dan LS, suhu rata-2 24-28 Co; malam dan siang hari beda suhu 3-10 Co; perubahan jelas musin hujan & kemarau.
Karakteristik tsb memberi peluang untuk hidup suburnya vektor nyamuk sebagai penular beberapa penyakit tertentu. Suhu meningkat berpengaruh thd kehidupan vektor (kembang biak cepat, masa kematangan pendek, biting rate meningkat, kegiatan reproduksi meningkat) à populasi nyamuk meningkat tajam. Diperkirakan th 2.100 kenaikan suhu > 3 Co, kejadian penyakit yag ditularkan oleh nyamuk 2 x .

Indonesia rentan terhadap global warming :
         Negara yang mempunyai banyak pulau (17.500);
         Garis pantai cukup panjang yaitu 81.000 Km;
         Penduduk banyak tinggal di daerah pantai (65%);
         Air sebagai kebutuhan pokok keluarga penyediaannya sangat dipengaruhi oleh iklim, yang berdampak juga pd pertanian, peternakan dan perikanan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan penyakit menular :
1.      Perkembangan ekonomi, demografi dan gaya hidup di masyarakat
2.      Perkembangan arus transportasi, peningkatan wisatawan/pengunjung antar wilayah, pulau dan kota
3.      Perubahan lingkungan termasuk perubahan iklim
Perubahan iklim yang rata-rata cenderung lebih tinggi. Diperkirakan suhu > (1.4 – 5.8 oC ) s/d th 2.100; permukaan air laut >> (rata-2 0,1-0,2 m) à akibat pemanasan suhu, kutub selatan & utara mencair;
Awal abad 21, dunia alami berbagai perubahan iklim yg ekstrim (sangat dingin – panas berkepanjangan; curah hujan tinggi à banjir di berbagai tempat dunia.
Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi : Akibat jumlah emisi gas CO2, gas rumah kaca di atmosfir.
Efek gas rumah kaca : Akumulasi gas hasil emisi yag memantulkan panas/enersi ke atmosfir bumi.
Akibat pantulan:  bumi mengalami peningkatan suhu.
Globalisasi à peningkatan perdagangan dunia à meningkatnya mobilitas pddk, kegiatan industri meningkat à dampak perubahan perilaku penduduk à perubahan pola konsumsi, pola industri jasa & manufactur à dampak kes.masyarakat.
Pertambahan jumlah penduduk  à penggunaan energi meningkat à mengingat kegiatan à sisa-sisa pembakaran mencemari udara àCO, CO2, H2S, gas methan dan lain-lain à  dampak kesehatan masyarakat
Jumlah penduduk tak terkendali sebagai peyumbang gas CO2 meningkat, emisi CO2 meningkat; Secara alamiah CO2 dikonversi menjadi O2 & ikatan karbon lain oleh tanaman/hutan;
Pengaruh pemanasan global warming terhadap kesehatan :
         LANGSUNG : Suhu nyaman untuk kehidupan manusia antara 20-25 Co. Perubahan iklim, musim dingin sangat ekstrim, kasus asthma bronkial >>, keganasan dermatologi, gelombang panas (heat waves) à jantung bekerja keras utk dinginkan badan (sirkulasi tambah >>) à fatalitas >>.
         TAK LANGSUNG : perubahan morbiditas penyakit yg ditularkan oleh vektor (nyamuk). à Vector borne disease. Bionomi nyamuk berubah, akibat suhu >> dgn kelembaban tertentu, perilaku berubah (perkawinan >>, keinginan mencari makan >>, produksi telur makin >>, wilayah mukim makin meluas, dapat merambah ke gunung-gunung yg tinggi > 1.000 m dan meluas ke wilayah sub tropik.
         Vector borne disease >> : Malaria; Demam Berdarah Dengue; Chikungunya; Japanese Encepahlitis; Filariasis;
         Penyakit yg ditularkan melalui air : Akibat air laut pasang peny. yang morbiditas >> al. Leptospirosis; Infeksi virus Hanta; Akibat cuaca aktrim terjadi banjir peny. Yg mugnkin >> : cholera; diare; demam tifoid; leptospirosis, penyebaran anthrax dll.
         Penyakit akibat perubahan iklim dengan suhu >> : infeksi baru, Avian Flue, Infeksi virus Hanta, Japanese Encephalitis.
         Penyakit yang berkenaan dgn perubahan lingkngan, pencemaran lingkungan thd bahan toksis à meningkatnya penyakit tidak menular.
4.      Keterbatasan sumber daya dan pelayanan kesehatan masyarakat
Keterlambatan deteksi dini penyakit menular
Rendahnya aksesibiltas/jangkauan fasilitas/sarana pelayanan kesehatan
5.      Pengemasan yang tidak hygiene
Foodhandling yang tidak baik à IPRT (industri pangan rumah tangga), pengolahan dan penyajian konsumsi rumah tangga. Contoh : penyakit thypus.
6.      Mutasi dan evolusi gen termasuk didalamnya resistensi antibiotik.
Contoh resistensi antibiotik : cholera eltor menjadi cholera O 139, malaria resistensi terhadap klorokuin, saat ini obat yang digunakan ACT.
Perubahan iklim à perubahan ekosistem à menyebabkan vektor dapat beradaptasi dan berkembangbiak. Contoh : DBD.